Momen Karbon Asia: Dari Kesepakatan Menuju Aksi Nyata

- Pewarta

Senin, 9 Maret 2026 - 10:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momen Karbon Asia: Dari Kesepakatan Menuju Aksi Nyata

Momen Karbon Asia: Dari Kesepakatan Menuju Aksi Nyata

Lester Chan, CEO & Chairman, The GrowHub Limited (Nasdaq: TGHL), menjelaskan, kalangan pemerintah dan perusahaan harus didukung untuk mengubah potensi menjadi dampak nyata dan terukur di Asia serta wilayah lain.

SINGAPURA, 9 Maret 2026 /PRNewswire/ — Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai pasar karbon di Asia lebih banyak berfokus pada potensi—kerangka kerja yang perlu dibangun dan kesepakatan yang perlu ditandatangani. Kini, fase tersebut mulai berakhir. Pada 2026, kita telah memasuki era implementasi nyata.

Asia kini berkontribusi terhadap lebih dari setengah emisi global. Kawasan ini juga memiliki beberapa penyerap karbon (carbon sink) alami terpenting di dunia, seperti ekosistem mangrove, hutan tropis, dan kawasan pegunungan. Yang menjadi pertanyaan, bukan lagi apakah Asia akan membentuk pasar karbon global, namun seberapa cepat dan kredibel kawasan ini mampu menghasilkan dampak nyata dan dapat diverifikasi.

Titik Penting dari Pasal 6

Pasal 6 dalam Kesepakatan Paris kini beralih dari tahap negosiasi menuju implementasi.

Pemerintah di berbagai negara Asia mulai menyusun proyek kerja sama konkret berdasarkan kerangka Pasal 6. Bhutan dan Singapura, misalnya, baru-baru ini meluncurkan empat inisiatif yang mencakup kompor bersih, biogas, dan program mitigasi terpadu, beralih dari sekadar kerangka kebijakan menjadi portofolio proyek nyata. Proyek-proyek ini bukan sekadar uji coba akademis. Proyek tersebut dirancang sebagai proyek yang layak secara finansial dengan jalur pengurangan emisi yang jelas, serta mekanisme penerbitan kredit karbon yang terdefinisi.

Sementara itu, Joint Crediting Mechanism (JCM) Jepang, termasuk kerja sama di Asia Tenggara, juga berkembang dari proyek percontohan awal menuju transfer hasil mitigasi yang diakui secara internasional. Program ini didukung oleh teknologi nyata, mulai dari pengumpulan refrigeran (refrigerant recovery) hingga praktik budi daya padi berkelanjutan. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme pasar karbon di kawasan ini mulai bergerak, dan jumlah proyek akan meningkat pesat jika proses otorisasi di negara tuan rumah dan sistem registri dapat mengikuti perkembangan tersebut.

Pentingnya Kualitas

Seiring bertambahnya jumlah proyek, pengawasan terhadap kualitas proyek juga semakin ketat.

Tantangan dalam pasar karbon sukarela telah banyak dibahas. Namun, kini terlihat perubahan yang jelas: pada 2025, investasi pada proyek karbon baru meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya hingga melampaui US$ 10 miliar. Pada saat yang sama, jumlah kredit karbon yang digunakan mulai melampaui jumlah kredit karbon yang diterbitkan untuk jenis kredit berkualitas tinggi. Para pembeli kredit karbon kini semakin memilih proyek berkualitas tinggi—kredit yang menawarkan daya tahan, transparansi, dan dampak yang dapat dibuktikan. Permintaan juga mulai bergeser dari kredit penghindaran emisi yang murah menuju proyek penurunan emisi dan penyerapan karbon dengan integritas tinggi.

Perubahan ini menempatkan Measurement, Reporting, and Verification (MRV) sebagai elemen utama pasar karbon. Tanpa data yang dapat dipercaya—terkait acuan (baseline), additionality, kebocoran emisi, dan keberlanjutan dampak—tidak ada standar, registri, atau platform perdagangan yang dapat mempertahankan kepercayaan pasar.

The GrowHub mengembangkan solusi karbon berdasarkan realitas tersebut. Lebih lagi, The GrowHub memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memantau dan membuat model kinerja proyek, serta teknologi blockchain guna menciptakan jejak data yang tidak dapat diubah dari lapangan hingga registri. Di berbagai negara Asia, kemampuan tersebut kini bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan standar dasar bagi proyek yang ingin memiliki kredibilitas jangka panjang dan nilai pasar yang kuat.

Dorongan Regulasi

Regulasi kini juga memperkuat arah perkembangan pasar tersebut.

Di berbagai negara Asia Tenggara, mekanisme penetapan harga karbon mulai terbentuk. Thailand telah meloloskan Rancangan Undang-Undang Perubahan Iklim dan menyelesaikan transfer ITMO pertama dengan Jepang. Vietnam telah memasuki tahap uji coba sistem perdagangan emisi (ETS). Malaysia tengah mempersiapkan penerapan pajak karbon, sedangkan Indonesia mengembangkan kredit karbon berbasiskan alam untuk melengkapi kerangka regulasi.

Pesan bagi dunia usaha kini semakin jelas: karbon bukan lagi sekadar isu ESG tambahan, namun telah menjadi faktor penting dalam biaya, risiko, dan daya saing.

Perkembangan ke Depan

Perkembangan pasar karbon di Asia kini memasuki fase paling penting. Selama beberapa tahun ke depan, perkembangan yang terjadi akan menentukan apakah kawasan ini mampu memanfaatkan sumber daya alam dan transformasi industri dengan skala dan integritas yang dibutuhkan.

Artinya, investor, pengembang proyek, dan pihak pembeli dari kalangan korporasi perlu mendukung proyek yang memiliki tata kelola kuat, selaras dengan kebijakan negara tuan rumah, serta didukung teknologi MRV yang andal. Era uji coba mulai berakhir. Kini, prioritas tertinggi terletak pada pelaksanaan yang disiplin dan berkualitas.

The GrowHub memiliki fokus yang sederhana: membantu pemerintah dan perusahaan mengubah potensi karbon menjadi dampak nyata dan terukur di Asia, serta di seluruh dunia.

Berita Terkait

AutoFlight Rampungkan Uji Terbang dengan Formasi Tiga Pesawat Berbeda, V5000 Matrix Resmi Masuki Tahap Sertifikasi Kelaikudaraan
HiFS 2026: Huawei Percepat Transformasi “Agentic Banking”, Hadirkan Empat Solusi Keuangan Digital Utama Versi Terbaru
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia
CGTN: 75 Tahun Xizang: Harmoni Pembangunan dan Pelestarian Budaya Ciptakan “Keajaiban di Atap Dunia”
ZTE Rilis Laporan Keberlanjutan 2025, Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat AI
ASOSIASI DOKTER GIGI TERBESAR DI ASIA PASIFIK DORONG PERUBAHAN PENDEKATAN KESEHATAN MULUT MENUJU MODEL PREVENTIF, DIDUKUNG BUKTI ILMIAH TERBARU YANG BERSKALA GLOBAL
CGN Gelar “Open Day” Serentak di Lima Negara, Dorong Edukasi Energi Hijau dan Pertukaran Budaya

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 17:41 WIB

AutoFlight Rampungkan Uji Terbang dengan Formasi Tiga Pesawat Berbeda, V5000 Matrix Resmi Masuki Tahap Sertifikasi Kelaikudaraan

Senin, 25 Mei 2026 - 08:22 WIB

HiFS 2026: Huawei Percepat Transformasi “Agentic Banking”, Hadirkan Empat Solusi Keuangan Digital Utama Versi Terbaru

Senin, 25 Mei 2026 - 07:54 WIB

Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%

Senin, 25 Mei 2026 - 06:00 WIB

SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 - 05:48 WIB

CGTN: 75 Tahun Xizang: Harmoni Pembangunan dan Pelestarian Budaya Ciptakan “Keajaiban di Atap Dunia”

Berita Terbaru